Logo JawaPos
Author avatar - Image
06 April 2026, 03.35 WIB

Hari Raya Paskah 2026, Uskup Surabaya Mgr Didik Ingatkan Tugas Gereja Bukan Berpolitik

Pada Hari Raya Paskah 2026, Uskup Surabaya, Mgr Agustinus Tri Budi Utomo mengingatkan tugas gereja bukan berpolitik, melainkan melayani umat beribadah, Minggu (5/4). (Novia Herawati/ JawaPos.com) - Image

Pada Hari Raya Paskah 2026, Uskup Surabaya, Mgr Agustinus Tri Budi Utomo mengingatkan tugas gereja bukan berpolitik, melainkan melayani umat beribadah, Minggu (5/4). (Novia Herawati/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Di tengah suka cita perayaan Hari Raya Paskah 2026 di Gereja Katedral Hati Kudus Yesus Surabaya, Uskup Surabaya, Mgr Agustinus Tri Budi Utomo (Didik) mengingatkan tugas gereja bukan berpolitik.

Pernyataan itu dinilai relevan di tengah dinamika sosial politik saat ini. Mgr Didik menekankan gereja harus tetap fokus pada pelayanan ibadah umat, bukan terlibat dalam kepentingan kekuasaan maupun politik praktis.

"Tugas gereja yang pertama adalah beribadah, jadi tugas gereja itu bukan berpolitik tugas gereja untuk yang lain-lain," ucap Mgr Didik kepada JawaPos.com setelah memimpin Misa Paskah pada Minggu (5/4).

Menurutnya, kedewasaan iman umat Kristiani dapat dilihat dari pelaksanaan lima tugas pokok gereja, yang berlandaskan nilai spiritual dan kemanusiaan, bukan didorong oleh kepentingan politik semata.

"Dewasa disini yaitu dengan mewujudkan 5 tugas gereja. Pertama beribadah, tugas kedua mewartakan apa yang baik bagi sesama, kebenaran yang datang dari Tuhan sendiri, jadi jiwa semangat Injil diwartakan," imbuhnya.

Tugas ketiga gereja adalah memperkuat persatuan dengan membangun kebersamaan yang rukun, solid, dan saling mendukung. Tugas selanjutnya menitikberatkan pada pelayanan bagi umat yang membutuhkan bantuan.

"Lalu (tugas) yang kelima adalah kesaksian hidup, menjadi contoh kebaikan bagi sesama. Itu yang disebut dengan dewasa. Nah dalam pekan suci ini, renungan yang saya berikan adalah mengampuni masa lalu," ucap Mgr Didik.

Ia mengajak umat Kristiani agar tidak terpengaruh tekanan, perpecahan, maupun derasnya kritik di media sosial. Tantangan hidup diibaratkan batu besar yang menghalangi langkah, termasuk masalah dan kesulitan.

"Bahwa kita sering kali terhambat atau menjadi berhenti saat berhadapan dengan 'batu besar' yang menghalangi, juga banyak hal salah dan dosa tahun lalu yang membuat kita malu dan terbelenggu," tuturnya.

Di tengah berbagai dilema, Hari Raya Paskah menjadi momentum untuk bangkit, meneladani Yesus yang mengalahkan kematian. Umat diajak tidak terus terjebak masa lalu atau menyalahkan pihak lain.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore