
Teatrikal Jalan Salib Kreatif di Gereja Katedral, Jakarta. Acara tersebut merupakan rangkaian Jumat Agung dan Paskah untuk mengajak umat untuk bisa lebih menghayati. (HANUNG HAMBARA/JAWA POS)
JawaPos.com - Umat Kristiani di seluruh dunia memperingati Jumat Agung pada Jumat (3/4) sebagai salah satu momen paling sakral dalam kalender liturgi. Hari ini dikenang sebagai peristiwa penyaliban dan wafatnya Yesus Kristus di Kalvari, yang diyakini sebagai pengorbanan tertinggi demi penebusan dosa umat manusia.
Jumat Agung merupakan bagian penting dari rangkaian Paskah dan menjadi momen refleksi mendalam bagi umat. Dalam ibadah khusus, umat merenungkan penderitaan Yesus di kayu salib, termasuk melalui tradisi penghormatan salib sebagai simbol kasih dan pengorbanan.
Meski peristiwa yang dikenang sarat penderitaan, penyiksaan hingga kematian, hari ini justru dikenal dengan sebutan “baik” atau Good Friday. Penamaan ini kerap menimbulkan pertanyaan: mengapa hari penuh duka disebut sebagai hari yang “baik”?
Secara teologis, Jumat Agung dipahami sebagai titik balik dalam sejarah keselamatan. Dalam ajaran Kristen, kematian Yesus bukan sekadar tragedi, melainkan bagian dari rencana ilahi untuk menebus dosa manusia. Rasul Paulus bahkan menyebut peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus sebagai inti dari kabar baik Injil.
Dalam perspektif iman, pengorbanan Yesus di salib menjadi wujud nyata kasih Allah kepada manusia. Melalui penderitaan tersebut, umat percaya menerima anugerah terbesar berupa pengampunan dan keselamatan. Karena itulah, makna “baik” dalam Jumat Agung tidak merujuk pada peristiwanya, melainkan pada dampak spiritual yang dihasilkan.
Di berbagai tradisi gereja, Jumat Agung juga dikenal dengan nama lain seperti Holy Friday, Great Friday, hingga Black Friday. Dalam bahasa Jerman, hari ini disebut Karfreitag yang berarti “Jumat Kesedihan”. Sementara itu, beberapa ahli menyebut istilah “Good Friday” kemungkinan berasal dari frasa lama “God’s Friday” atau “Jumat Tuhan”.
Jumat Agung sekaligus menjadi pengantar menuju Paskah, yang dirayakan sebagai hari kebangkitan Yesus. Kematian di salib yang tampak sebagai kekalahan justru menjadi awal dari kemenangan atas dosa dan kematian.
Melalui peringatan ini, umat Kristiani diajak untuk merenungkan makna salib sebagai simbol kasih yang radikal, sekaligus menyiapkan hati menyambut kebangkitan sebagai puncak iman. Pengorbanan di Jumat Agung menjadi jalan menuju harapan baru dan kehidupan yang dijanjikan Allah bagi umat-Nya.
