Logo JawaPos
Author avatar - Image
03 April 2026, 01.33 WIB

Indef: Lonjakan Harga Minyak Ancam Fiskal, Insentif EV Dibutuhkan jaga Pasar Menengah

Sejumlah pengunjung melihat koleksi mobil listrik BYD di gelaran IIMS, Jakarta, Jumat (06/02/2025). (Hanung Hambara/Jawa Pos) - Image

Sejumlah pengunjung melihat koleksi mobil listrik BYD di gelaran IIMS, Jakarta, Jumat (06/02/2025). (Hanung Hambara/Jawa Pos)

JawaPos.com – Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman menilai, pemerintah perlu segera mengaktifkan kembali insentif kendaraan listrik (electric vehicle/EV) sebagai langkah untuk meredam risiko fiskal akibat lonjakan harga minyak dunia. Menurutnya, tanpa stimulus lanjutan, Indonesia berpotensi kehilangan momentum dalam mempercepat adopsi kendaraan listrik, terutama di segmen kelas menengah.

"Risiko perlambatan ini cukup nyata, khususnya setelah insentif fiskal berakhir pada 2025 yang menyebabkan harga kendaraan listrik menjadi lebih mahal dan daya beli masyarakat menyempit," ujar Rizal dalam keterangannya, Kamis (2/4).

Data menunjukkan, sepanjang Januari hingga November 2025, penjualan kendaraan listrik sempat mencapai sekitar 82 ribu unit, atau setara 11–12 persen dari total pasar otomotif nasional, didorong oleh berbagai insentif dari pemerintah.

Namun pada saat yang sama, lanjutnya, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mendorong harga minyak dunia (Brent) tetap tinggi, bahkan bertahan di atas USD 100 per barel. Kondisi ini berpotensi meningkatkan beban subsidi energi dalam APBN.

Rizal menjelaskan, alokasi subsidi energi pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp 210 triliun. Anggaran ini sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak, dimana setiap kenaikan USD 1 per barel dapat menambah beban fiskal sebesar Rp 6–7 triliun. Artinya, jika harga minyak naik USD 10 per barel, tambahan beban subsidi bisa mencapai Rp 60–70 triliun.

Karena itu, tuturnya, Indef memandang insentif kendaraan listrik tetap dibutuhkan, tidak hanya untuk menjaga daya beli masyarakat, tetapi juga sebagai strategi jangka menengah dalam mengurangi tekanan fiskal dan ketergantungan pada impor BBM.

"Dalam simulasi transisi energi, penggantian 1 juta kendaraan konvensional dengan kendaraan listrik berpotensi menghemat sekitar 13 juta barel minyak per tahun. Ini merupakan penghematan yang signifikan dan berdampak langsung terhadap keseimbangan energi nasional," jelasnya.

Ia menegaskan, keberlanjutan insentif akan sangat menentukan keberhasilan transisi energi di sektor transportasi, sekaligus menjaga stabilitas fiskal di tengah ketidakpastian global.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore