Logo JawaPos
Author avatar - Image
03 April 2026, 18.03 WIB

Jadi Motor Ekonomi Baru, Kampung Nelayan Merah Putih Bisa Produksi Ikan hingga 2,15 Juta Ton Setahun

Kepala Kantor Staf Presiden, Muhammad Qodari, dalam konferensi pers yang diselenggarakan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) di Kantor KSP, Jakarta, Rabu (1/4)/(Istimewa)/(Antara).

JawaPos.com — Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) diproyeksikan mampu memproduksi hingga 2,15 juta ton ikan per tahun. Program tersebut dinilai akan memperkuat sektor riil sekaligus meningkatkan ketahanan pangan berbasis kelautan.

 
Kepala Kantor Staf Presiden, Muhammad Qodari, menyampaikan bahwa berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan per 25 Maret 2026, potensi produksi tersebut berasal dari pengembangan kampung nelayan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. 
 
Program ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir secara berkelanjutan.
 
"Program ini diproyeksikan mampu menghasilkan produksi perikanan hingga 2,15 juta ton per tahun, yang akan memperkuat sektor riil dan ketahanan pangan berbasis kelautan," ujar Qodari dalam keterangannya, Rabu (1/4).
 
Menurutnya, peningkatan produksi ikan di tingkat lokal diperkirakan mencapai 10 hingga 30 persen. Peningkatan tersebut berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi desa sebesar 5,4 hingga 16,2 persen.
 
"Bahkan, secara hitung-hitungan, setiap kenaikan produksi ikan sebesar 1 persen mampu mendorong pertumbuhan ekonomi desa sebesar 0,54 persen," lanjutnya.
 
Hingga akhir Maret 2026, pemerintah melaporkan kemajuan pesat dalam pembangunan fisik KNMP.
 
Pada tahap pertama, pembangunan KNMP dimulai pada September 2025 di 65 desa atau kelurahan di 60 kabupaten/kota di 25 provinsi dengan anggaran sebesar Rp1,2 triliun. Hingga 30 Maret 2026, progres pembangunan tahap pertama telah mencapai 99,23 persen.
 
 
Dari target tersebut, sebanyak 61 lokasi telah selesai dibangun, sementara empat lokasi masih dalam proses penyelesaian, yakni di Kabupaten Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), Kabupaten Sumenep (Jawa Timur), serta Kabupaten Pangandaran dan Kabupaten Garut (Jawa Barat).
 
Selanjutnya, pembangunan tahap kedua dimulai pada Desember 2025 di 35 desa atau kelurahan di 35 kabupaten/kota di 17 provinsi dengan alokasi anggaran Rp660,5 miliar. Hingga 30 Maret 2026, progres pembangunan tahap kedua mencapai 16,68 persen dan ditargetkan selesai pada Mei 2026.
 
Selain itu, pemerintah juga menargetkan lonjakan pembangunan pada 2026 dengan rencana pembangunan 1.000 lokasi Kampung Nelayan Merah Putih di berbagai wilayah Indonesia.
 
"Dengan model ini, setiap kampung nelayan tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari jaringan ekonomi yang saling mendukung," tambah Qodari.
 
Sebagai contoh, di lokasi modeling KNMP Samber Binyeri, Biak, Papua. Qodari mengatakan keberadaan KNMP di kampung itu meningkatkan produktivitas nelayan hingga dua kali lipat. Yakni, meningkat dari 5,35 ton menjadi 10,85 ton tangkapan ikan.
 
Peningkatan juga terjadi untuk jumlah hari melaut, dari 9 hari menjadi 13 hari atau naik 44 persen.
 
“Ini menunjukkan bahwa dengan dukungan sarana dan sistem yang tepat, kemampuan produksi nelayan bisa meningkat lebih dari dua kali lipat dan hari kerja untuk melaut lebih sering dan lebih produktif,” kata Qodari.
 
Alhasil, kata dia, peningkatan produktivitas ini berdampak langsung pada pendapatan nelayan. Pendapatan nelayan di Samber Binyeri naik dari Rp4,35 juta menjadi Rp7,73 juta per bulan, atau naik 75 persen.
 
“Ini terjadi karena produktivitas meningkat dan harga ikan menjadi lebih baik berkat kualitas yang terjaga dan akses pasar lebih luas,” kata Qodari.
 
Dia berharap keberhasilan KNMP di Biak ini bisa menjadi benchmark untuk KNMP di daerah-daerah lain. Paling tidak, keberadaan KNMP mampu meningkatkan produktivitas perikanan antara 100 persen hingga 200 persen pada setiap lokasi KNMP yang sudah beroperasi secara penuh.
 
Di lapangan, para nelayan merasakan langsung manfaat dari kehadiran fasilitas modern yang dibangun melalui program ini. 
 
“Kehadiran fasilitas modern seperti pabrik es, gudang beku (cold storage), dan dermaga yang terintegrasi sangat membantu nelayan dalam menjaga kualitas kesegaran ikan hasil tangkapan serta mempermudah proses distribusi tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke pusat kota,” kata Abraham Sen, nelayan setempat.
 
Hal senada disampaikan Artisan, nelayan lainnya. Menurut dia, program KNMP membawa perubahan signifikan bagi kehidupan masyarakat pesisir dimana peningkatan pendapatan naik menjadi dua kali lipat dari sebelumnya. 
 
 
“Program ini memberikan dampak nyata terhadap taraf hidup masyarakat pesisir, yang dibuktikan dengan kenaikan pendapatan bulanan nelayan hingga dua kali lipat dibandingkan saat masih menggunakan sarana tradisional, sehingga mampu menjamin stabilitas ekonomi keluarga secara berkelanjutan,” ujarnya.
 
Program KNMP diproyeksikan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 27.000 orang. Terdiri atas 20.000 orang tenaga kerja non-permanen (konstruksi) dan 7.000 orang tenaga kerja permanen (penempatan di cold storage, mobil pengangkut, pabrik es, galangan kapal, tambatan kapal, kios perbekalan, SPBN, sentra kuliner, dan pengurus koperasi serta nelayan).
 
Program KNMP sudah memasuki tahap kedua pembangunan. Pada tahap pertama yang dimulai pada September 2025, telah terbangun 65 KNMP di 60 kabupaten/kota di 25 provinsi. Hingga 30 Maret 2026, progres pembangunannya mencapai 99,23 persen.
 
Pada tahap kedua yang dimulai pada Desember 2025, pembangunan KNMP dilakukan di 35 desa/kelurahan di 35 kabupaten/kotq di 17 provinsi. Hingga 30 Maret 2026, progres pembangunannya mencapai 16,68 persen dan ditargetkan selesai pada Mei 2026.
 
Tahun 2026, Pemerintah menargetkan lonjakan besar pembangunan sebanyak 1.000 KNMP.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore