
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberi keterangan terkait harga minyak dunia, Senin (9/3/2026). (Nurul F/JawaPos.com)
JawaPos.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara soal harga minyak mentah dunia yang melambung efek perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Harga minyak mentah Brent tercatat melonjak hingga USD 111,04 per barel atau naik sekitar 19,8 persen, pada perdagangan awal pekan, Senin (9/3).
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga menguat menjadi USD 107,40 per barel setelah sempat menyentuh USD 111,24 pada awal sesi perdagangan.
Menanggapi hal tersebut, Purbaya menegaskan pemerintah masih terus memantau perkembangan sebelum mengambil langkah kebijakan lebih lanjut berkaitan dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Baca Juga:Serangan AS–Israel ke Depot Minyak Picu Krisis BBM di Teheran, Iran Pangkas Kuota Bahan Bakar Warga
Purbaya mengaku akan memantau fluktuasi harga minyak mentah dunia selama satu bulan, sebelum melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dampaknya pada perekonomian nasional.
“Jadi kita lihat sebulan ini kita lihat gimana sih keadaannya. Nanti kita akan evaluasi secara menyeluruh. Tapi yang jelas kita akan pastikan momentum pertumbuhan ekonomi tidak terganggu,” ujar Purbaya saat ditemui di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (9/3).
Menurut dia, hingga saat ini aktivitas ekonomi domestik Indonesia masih berada dalam fase ekspansi.
Ia menilai lonjakan harga minyak global yang terjadi dalam waktu singkat belum menunjukkan dampak signifikan terhadap perekonomian dalam negeri.
“Sekarang kan ekonomi masih ekspansi. Saya belum lihat ada gangguan dari aktivitas ekonomi dalam negeri gara-gara harga yang naik tinggi, tapi kan baru sebentar,” lanjutnya.
Purbaya juga mengingatkan berbagai pihak agar tidak buru-buru menyimpulkan bahwa harga minyak akan terus bertahan di atas USD 100 per barel dalam jangka panjang.
Ia menilai sejumlah proyeksi yang menyebut harga minyak bisa melonjak hingga USD 150 per barel masih terlalu dini untuk dijadikan dasar kekhawatiran terhadap kondisi anggaran negara.
“Teman-teman jangan cepat-cepat memastikan atau menyimpulkan harga akan USD 100 per barel terus, bahkan ada yang bilang menuju USD 150 per barel dan anggaran kita tidak akan kuat. Kita akan assess terus dari waktu ke waktu,” tuturnya.
Lebih lanjut, Purbaya menjelaskan bahwa perhitungan fiskal pemerintah selalu bersifat dinamis dan akan menyesuaikan perkembangan kondisi global.
