
Shalat Idul Fitri di Lapangan Renon Denpasar dipadati jamaah dan pedagang yang memanfaatkan momen Lebaran. (Miftahuddin/Radar Bali)
JawaPos.com–Keberagaman itu indah. Dan Lebaran 2026 menghadirkan cerita unik dari Bali. Perbedaan hari raya Idulf Fitri antara Jumat dan Sabtu justru membawa berkah bagi para pedagang kecil.
Ada sisi yang menarik dari hari raya Idul Fitri tahun ini saat warga Muhammadiyah menggelar shalat id pada Jumat (20/3) dan pemerintah/NU pada Sabtu (21/3). Para pedagang makanan dan alas shalat bisa berjualan dua kali, Jumat dan Sabtu.
Jumat (20/3) sekitar pukul 07.00, kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Lapangan Renon, Denpasar, dipadati umat muslim. Mereka berduyun-duyun datang untuk menunaikan shalat Idul Fitri dengan penuh khidmat.
Suasana makin hidup dengan kehadiran pedagang yang menjajakan dagangannya di pinggir lapangan. Dari koran bekas hingga makanan ringan, semuanya tersedia untuk memenuhi kebutuhan jamaah. Di tengah lapangan yang masih basah usai hujan, koran bekas dan plastik jadi barang paling dicari.
”Koran bekas, koran bekas,” ujar penjual sambil menawarkan alas shalat kepada jamaah.
Bak perhelatan besar, pedagang makanan ringan hingga teh dan kopi berjejer rapi. Ini adalah simbiosis mutualisme saling membutuhkan, saling menguntungkan, bagian dari keserasian kerukunan dan harmoni kehidupan.
Usai shalat id dan khotbah sekitar pukul 08.00, aktivitas jual beli semakin ramai. Pedagang sibuk melayani pembeli yang mencari sarapan ringan setelah ibadah.
”Ya, lumayan. Tapi masih larisan Lebaran tahun lalu,” ujar Bu Kadek saat ditanya apakah dagangannya laris. Dia tetap bersyukur karena dagangannya tetap diminati pembeli.
Berbeda dengan Bu Kadek, Pak Wayan justru mengaku dagangannya cukup laris manis. Pria paruh baya itu menjual kacang rebus, ubi rebus, pisang rebus, buah potong, hingga kopi dan air mineral.
