Logo JawaPos
Author avatar - Image
10 Januari 2026, 17.36 WIB

Saudaramu Memperlakukanmu Berbeda dari Cara Mereka Memperlakukan Satu Sama Lain? Anda Mungkin Telah Memperhatikan 7 Pola Ini Menurut Psikologi

seseorang yang diperlakukan berbeda./Freepik/jcomp - Image

seseorang yang diperlakukan berbeda./Freepik/jcomp

JawaPos.com - Dalam banyak keluarga, ada satu kebenaran sunyi yang jarang dibicarakan secara jujur: tidak semua anak diperlakukan dengan cara yang sama.

Di permukaan, semuanya tampak harmonis—tertawa bersama saat acara keluarga, saling menyapa di grup WhatsApp, dan berbagi cerita ringan seolah tak ada yang janggal.

Namun jauh di dalam hati, Anda mungkin sering bertanya-tanya, “Mengapa rasanya aku selalu diperlakukan berbeda?”

Yang membuat situasi ini semakin rumit adalah satu hal: tak seorang pun di keluargamu akan mengakuinya.

Jika Anda mencoba membicarakannya, Anda dianggap terlalu sensitif, berlebihan, atau “baper”. Padahal, perasaan itu tidak muncul tanpa sebab.

Dilansir dari Geediting pada Jumat (9/1), jika sejak lama Anda merasa menjadi “yang berbeda” di antara saudara-saudaramu, besar kemungkinan Anda telah menyadari beberapa pola berikut—pola yang nyata, berulang, dan sering kali menyakitkan, meskipun terus disangkal oleh keluarga.

1. Pendapatmu Lebih Sering Diabaikan, Bukan Didiskusikan

Saat saudara-saudaramu mengemukakan pendapat, ide mereka didengarkan, dipertimbangkan, bahkan dipuji. Namun ketika giliran Anda berbicara, respons yang muncul sering kali singkat, datar, atau bahkan diakhiri dengan kalimat seperti, “Ah, kamu kebanyakan mikir.”

Yang menyakitkan bukan hanya karena pendapatmu ditolak, tetapi karena pendapatmu tidak pernah benar-benar masuk ke ruang diskusi. Seolah-olah apa yang Anda katakan tidak memiliki bobot yang sama.

2. Kamu Dijadikan Kambing Hitam yang “Paling Mudah”

Dalam konflik keluarga, entah mengapa arah tudingan sering mengarah padamu. Ketika ada masalah, namamu disebut lebih dulu. Ketika ada kesalahpahaman, kamu diminta mengalah, “demi keluarga”.

Pola ini biasanya dibungkus dengan kalimat bijak seperti, “Kamu kan lebih dewasa” atau “Kamu harusnya lebih mengerti.” Padahal, di balik itu, ada kecenderungan bahwa kamu dipilih karena dianggap paling tidak akan melawan.

3. Prestasimu Dianggap Biasa, Kesalahanmu Diperbesar

Saat kamu berhasil, reaksi yang muncul cenderung dingin: “Oh, ya bagus.” Tidak ada euforia, tidak ada kebanggaan berlebihan. Namun ketika kamu gagal atau membuat kesalahan kecil, responsnya terasa jauh lebih besar dari proporsinya.

Perbedaan ini pelan-pelan membentuk pesan tersirat: usahamu tidak cukup istimewa, tapi kesalahanmu selalu layak diingat.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore