Logo JawaPos
Author avatar - Image
21 November 2025, 00.42 WIB

Survei Aftech: 73,77 Persen Pengguna Fintech Domisili di Jabodetabek, Mayoritas Pendapatan Rp 5-10 Juta

Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) merilis hasil terbaru dari Annual Members Survey (AMS) 2024-2025. (Istimewa) - Image

Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) merilis hasil terbaru dari Annual Members Survey (AMS) 2024-2025. (Istimewa)

JawaPos.com - Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) merilis hasil terbaru dari Annual Members Survey (AMS) 2024-2025. Laporan tahunan ini menggarisbawahi berbagai tantangan fundamental yang harus ditangani bersama agar manfaat transformasi digital dapat dinikmati secara lebih merata oleh masyarakat. 

Di sisi lain, survei ini juga mengindikasikan bahwa ekosistem fintech Indonesia mulai memasuki fase kedewasaan, tercermin dari peningkatan kuat dalam tata kelola, keamanan digital, perluasan bisnis, dan pemanfaatan teknologi.

AMS 2024-2025 menunjukkan bahwa penggunaan fintech masih terkonsentrasi di wilayah Jabodetabek, yang mencapai 73,77 persen, menandakan penetrasi layanan di wilayah non-metro masih terbatas.

Sebagian besar pengguna berasal dari kelompok pendapatan menengah dengan Rp 5-10 juta, sementara masyarakat berpenghasilan rendah atau Rp 0-5 juta masih menghadapi berbagai hambatan akses terhadap layanan keuangan yang sebenarnya paling mereka perlukan. Hal ini menegaskan urgensi percepatan inklusi keuangan digital yang lebih luas.

Seiring meningkatnya transaksi digital, aspek keamanan siber dan potensi penipuan tetap menjadi sorotan utama. Phishing tercatat sebagai serangan siber paling sering terjadi, dialami oleh 27,12 persen perusahaan fintech pada 2025, turun dari 33,59 persen pada 2024. 

Tantangan terbesar justru berasal dari eksternal dengan 82,98 persen responden mengungkapkan bahwa fraud eksternal menjadi ancaman utama, baik dari konsumen, kelompok kriminal siber, maupun pihak ketiga.

Edukasi dan literasi keuangan digital juga mulai menunjukkan peningkatan, meski belum sebanding dengan pesatnya pertumbuhan produk dan inovasi fintech. Sebanyak 43,44 persen perusahaan menjadikan literasi sebagai program inti perlindungan konsumen. Namun, 59,02 persen pelaku industri masih menilai rendahnya literasi merupakan hambatan terbesar dalam perluasan inklusi keuangan.

Survei juga menyoroti kesenjangan kompetensi sebagai salah satu tantangan utama. Sebanyak 65,57 persen responden menyatakan kekurangan talenta di bidang Artificial Intelligence (AI) dan Big Data, dua kemampuan krusial untuk inovasi dan keamanan digital. 

Representasi perempuan dalam posisi strategis juga masih terbatas dengan 75 persen perusahaan belum memiliki CEO perempuan, dan 71 persen menyebutkan bahwa porsi perempuan di jajaran direksi berada di bawah 25 persen. 

Aftech menilai diperlukan upaya lebih kuat untuk mendorong keberagaman dalam kepemimpinan. Pada aspek keberlanjutan, penerapan program Environmental, Social, and Governance (ESG) juga masih rendah, dengan hanya 27,05 persen perusahaan yang memiliki program ESG formal.

Ketua Umum Aftech, Pandu Sjahrir, menegaskan bahwa temuan AMS 2024–2025 merupakan cerminan penting bagi arah perkembangan industri fintech. 

"Tantangan-tantangan ini bukanlah hambatan, melainkan peta jalan untuk memperkuat ekosistem. Kita telah memasuki fase maturing, dan fokus kita adalah memastikan inovasi tumbuh dengan tata kelola yang kuat, perlindungan konsumen yang kokoh, serta dampak nyata bagi sektor riil dan masyarakat luas," kata Pandu dalam keterangannya.

Pada saat yang sama, AMS 2024-2025 juga mencerminkan optimisme besar dari para pelaku industri. Fokus mereka kini bergeser ke profitabilitas, efisiensi, dan tata kelola berkelanjutan, sembari memperkuat peran fintech sebagai motor inklusi keuangan dan produktivitas ekonomi nasional.

Pergeseran strategi ini terlihat jelas dalam pendekatan bisnis dan pendanaan. Pada 2025, 43,4 persen perusahaan fintech memilih untuk tidak lagi agresif mencari pendanaan eksternal, naik dari 38,9 persen pada 2024, yang menandakan fokus pada penguatan internal dan pencapaian profitabilitas. 

Optimisme terhadap perekrutan juga tetap tinggi, dengan 57,38 persen perusahaan berencana menambah karyawan. Sementara itu, jumlah perusahaan yang melakukan pengurangan tenaga kerja turun drastis menjadi 16,33 persen, mengindikasikan bahwa industri fintech telah melewati fase penyesuaian dan kembali memasuki fase ekspansi. 

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore