Logo JawaPos
Author avatar - Image
25 Oktober 2025, 23.48 WIB

Tiongkok Anggap Wajar Negosiasi Utang Kereta Cepat Whoosh, Pemerintah Diminta Hati-hati Soal Beban Finansial

Ilustrasi Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh menjadi sorotan karena persoalan utang. (RianAlfianto/JawaPos.com) - Image

Ilustrasi Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh menjadi sorotan karena persoalan utang. (RianAlfianto/JawaPos.com)

JawaPos.com - Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong menilai langkah pemerintah Indonesia menegosiasikan restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Indonesia–Tiongkok (KCIC) atau Whoosh sebagai hal wajar. 

Menurut dia, proyek sebesar dan sekompleks Whoosh memang membutuhkan waktu panjang untuk mencapai titik impas.

“Mengenai isu keuangan, hal itu wajar bagi proyek kereta cepat sebesar ini, butuh waktu bertahun-tahun untuk mencapai titik impas,” ujar Wang saat ditemui di Kedutaan Besar Tiongkok di Jakarta, Kamis (23/10).

Wang mengatakan, pemerintah Tiongkok turut bangga terhadap performa Whoosh yang telah mengangkut lebih dari 12 juta penumpang sejak beroperasi dua tahun lalu.

Ia menilai proyek yang menjadi simbol kerja sama strategis kedua negara itu membawa dampak ekonomi dan sosial besar bagi Indonesia.

“Kami sangat bangga akan hal itu dan operasinya berjalan dengan sangat baik. Namun, tentu saja ada beberapa hal detail yang sedang kami bahas dengan pemerintah Indonesia,” katanya.

Meski begitu, Wang enggan membeberkan secara rinci pembahasan antara pemerintah RI dan Tiongkok terkait kondisi keuangan KCIC.

Ia hanya memastikan bahwa komunikasi intensif terus dilakukan agar proyek tersebut tetap beroperasi dengan aman dan berkelanjutan.

“Saya tidak akan mengatakan bahwa ada kesulitan keuangan, karena sejauh ini kami berjalan dengan baik dengan jumlah penumpang yang terus meningkat,” imbuhnya.

Sebelumnya, Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa proses negosiasi restrukturisasi utang KCIC masih terus berjalan.

Danantara, yang tergabung dalam konsorsium proyek tersebut, akan kembali mengirim tim negosiasi untuk bertemu dengan pemerintah Tiongkok.

“Poin negosiasinya berkaitan dengan jangka waktu pinjaman, suku bunga, dan juga beberapa mata uang yang akan kita diskusikan,” kata Dony di Jakarta, Kamis (23/10).

Negosiasi ini menjadi krusial lantaran total investasi proyek KCIC mencapai sekitar USD 7,27 miliar atau hampir Rp121 triliun, dengan 75 persen pembiayaannya berasal dari pinjaman Tiongkok Development Bank (CDB) berbunga 2 persen per tahun.

Pemerintah Indonesia masih mengkaji dua opsi utama untuk menyelesaikan beban utang proyek tersebut: pelimpahan kewajiban kepada pemerintah atau penyertaan modal tambahan ke PT Kereta Api Indonesia (KAI). 

Namun, pemerintah tetap mendorong agar Danantara mengambil peran utama dalam restrukturisasi tanpa menambah beban fiskal negara.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore