
Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia saat acara pembagian sembako sabagai rangkaian HUT ke-61 Partai Golkar di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta Barat, Rabu (22/10/2025). (Dery Raidwansah/JawaPos.com)
JawaPos.com-Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan rasa duka atas bencana alam yang melanda Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.
Bahlil pun membuat pengakuan dalam Talkshow Aksi Nyata untuk Bumi Lestari di DPP Partai Golkar, Jakarta Barat, pada Jumat (28/11).
Ketua Umum Partai Golkar ini menyampaikan pengakuan mengenai masa lalu sebagai pengusaha tambang. Bahlil secara terbuka mengungkapkan rasa bersalah atas aktivitas usaha yang dahulu Dijalankan, yang banyak bergantung pada penebangan pohon. Pengalaman itu, menjadi pelajaran penting.
"Saya menceritakan sedikit, saya juga merasa bersalah. Karena waktu saya jadi pengusaha dulu, saya kebetulan usaha saya dulunya main kain (tekstil) sama tambang. Yang semua urusannya pasti nebang pohon," ujar Bahlil.
Penggundulan hutan yang menyebabkan longsor dan banjir adalah dampak nyata dari tata kelola yang buruk. Untuk itu saat ini dia akan melakukan penataan dalam sektor tambang dan perkebunan.
"Atas dasar pengalaman itu, dampaknya sekarang adalah apa yang terjadi ketika pertambangan, perkebunan tidak ditata dan dikelola secara baik. Maka dampaknya kepada sosial," lanjut Bahlil.
Setelah dipercaya menjadi Menteri ESDM, Bahlil mengaku langsung fokus pada penataan total sektor pertambangan, yang harus betul-betul ramah lingkungan. Dia memastikan aturan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) akan diperketat.
"Maka kami melakukan penataan secara totalitas terhadap proses penambangan yang betul-betul ramah terhadap lingkungan. Amdalnya harus sudah diperketat," tegas Bahlil.
Kebijakan paling fundamental adalah dengan meminta seluruh pemegang izin tambang untuk menjaminkan biaya reklamasinya terlebih dahulu. Ini untuk memastikan tidak ada lagi kasus perusahaan yang menambang lalu meninggalkan lubang bekas tambang tanpa reklamasi.
"Maka kemudian itulah yang mendorong kami untuk melakukan penataan secara komprehensif. Dengan meminta kepada seluruh izin-izin pertambangan agar menjaminkan biaya reklamasinya dulu. Supaya jangan sampai nambang terus tinggalkan hutan," ucap Bahlil.
Keputusan ini, diakui Bahlil, banyak menuai protes dari sejumlah pihak. Namun, dia mengklaim berpegang teguh pada prinsip bahwa negara harus lebih kuat dari pengusaha.
"Banyak yang memprotes saya. Saya katakan untuk mereka sudah saatnya tidak boleh pengusaha mengatur negara. Yang mengatur pengusaha adalah negara. Tapi negara juga tidak boleh sewenang-wenang," beber Bahlil.
"Jadi kepada adik-adik saya dari aktivis lingkungan, kami dari SDM sekarang ketat sekali terhadap pertambangan. Begitupun di Migas. Amdalnya menjadi satu hal yang sangat penting sekali," imbuh dia.

Jadwal Imsakiyah Ramadhan Hari Ini, 2 Maret 2026 untuk Surabaya dan Sekitarnya
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
