Logo JawaPos
Author avatar - Image
29 Desember 2025, 19.41 WIB

Mengapa Sleeping Dogs Gagal Punya Sekuel tapi Cocok Jadi Film yang Kini Digarap Timo Tjahjanto?

Potongan game Sleeping Dogs. (Geek Gamers)

JawaPos.com – Ketika Timo Tjahjanto dikonfirmasi sebagai sutradara film Sleeping Dogs, satu pertanyaan lama kembali mencuat. Jika game ini begitu dicintai, mengapa Sleeping Dogs tak pernah punya sekuel resmi? Dan mengapa justru sekarang terasa sangat cocok diangkat menjadi film?

Jawabannya bukan sesederhana soal laku atau tidak laku. Riwayat Sleeping Dogs memperlihatkan bagaimana sebuah game bisa berhasil secara kualitas, namun terhenti secara nasib industri.

Sleeping Dogs yang dirilis pada 2012 dikembangkan oleh United Front Games dan dirilis oleh Square Enix mendapat sambutan positif dari kritikus. Untuk tahun itu, game ini tergolong luar biasa. Grafis yang bagus, open world, dan cerita yang kuat jadi daya tarik.

Skor ulasan di berbagai media game internasional berada di kisaran 80 hingga 85, dengan pujian pada cerita yang kuat, sistem pertarungan tangan kosong, dan atmosfer Hong Kong yang kuat. Review di Steam juga sangat positif.

Dalam banyak retrospektif industri, Sleeping Dogs kerap disebut sebagai game underrated, sebuah label yang biasanya diberikan pada judul berkualitas tinggi yang luput dari ledakan komersial besar.

Dari sisi penjualan, Sleeping Dogs terjual jutaan kopi secara global. Angka tersebut tergolong baik untuk IP baru. Namun, menurut laporan keuangan dan pembahasan industri game pada era itu, performanya tidak mencapai level blockbuster seperti franchise open world raksasa yang mendominasi pasar.

Artinya, Sleeping Dogs tidak gagal, tapi juga tidak cukup besar untuk langsung menjamin sekuel.

Studio Tutup, Cerita Ikut Berhenti

Game ini lantas memiliki penggemarnya sendiri. Banyak yang menunggu sekuelnya, namun tak kunjung muncul. Game yang pertama kali dirilis pada 2012 untuk PlayStation 3, Xbox 360, dan PC itu lantas muncul versi Definitive-nya pada 2014.

Saat itu, Square Enix merilis Sleeping Dogs: Definitive Edition untuk PlayStation 4, Xbox One, dan PC. Versi Definitive ini bukan game baru atau remake, melainkan versi remaster yang dirilis untuk konsol generasi berikutnya, sekaligus menjadi edisi paling lengkap dari Sleeping Dogs.

Perbedaan utama Definitive Edition dibanding versi asli terletak pada peningkatan grafis dan kelengkapan konten. Semua DLC resmi langsung disertakan, termasuk Year of the Snake dan The Zodiac Tournament, disertai tekstur lebih tajam, pencahayaan lebih baik, serta performa yang lebih stabil.

Meski begitu, cerita, karakter, dan ending tetap sama, tanpa tambahan plot baru. Karena itulah, Definitive Edition kerap dianggap sebagai versi final dan paling ideal untuk memainkan Sleeping Dogs hingga saat ini.

Nah, faktor terpenting dari Sleeping Dogs justru datang dari balik layar. Pengembangnya, United Front Games, resmi menutup studio mereka pada 2016. Informasi ini diumumkan langsung oleh pihak studio dan diberitakan luas oleh media industri game internasional kala itu.

Penutupan studio berarti tidak ada lagi tim inti yang memegang visi kreatif Sleeping Dogs. Meski hak kekayaan intelektual game ini berada di bawah Square Enix, ketiadaan pengembang utama membuat kelanjutan cerita menjadi rumit.

Dalam industri game, kehilangan studio kreatif sering kali lebih menentukan daripada sekadar angka penjualan. Banyak IP akhirnya berhenti bukan karena buruk, melainkan karena kehilangan rumah kreatifnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore