seseorang yang menjauhkan diri di usia tua./Freepik/freepik
JawaPos.com - Memasuki usia 60 tahun ke atas sering kali membawa perubahan besar dalam kehidupan sosial seseorang.
Tidak sedikit orang yang melihat perubahan ini sebagai tanda “menarik diri” atau “menjadi anti-sosial”.
Padahal, menurut berbagai penelitian psikologi perkembangan — termasuk teori dari psikolog seperti Erik Erikson dan Laura Carstensen — perubahan tersebut justru mencerminkan pergeseran prioritas emosional yang sehat.
Secara khusus, Teori Selektivitas Sosioemosional (Socioemotional Selectivity Theory) menjelaskan bahwa seiring bertambahnya usia, seseorang menjadi lebih selektif dalam memilih hubungan dan aktivitas sosial yang benar-benar bermakna.
Baca Juga: Jadwal Imsakiyah 10 Ramadhan 1447 H Kota Jakarta, Sabtu 28 Februari 2026
Dilansir dari Expert Editor pada Selasa (24/2), terdapat delapan kebiasaan sosial yang sering dihentikan oleh orang di atas 60 tahun — dan mengapa itu bukan berarti mereka menjauh dari dunia sosial.
1. Berhenti Mempertahankan Pertemanan yang Melelahkan
Di usia muda, lingkaran sosial sering kali luas. Namun setelah 60 tahun, banyak orang mulai menyadari bahwa tidak semua hubungan memberi energi positif.
Secara psikologis, ini adalah bentuk penyaringan emosional. Mereka cenderung mempertahankan hubungan yang mendalam dan penuh makna, bukan sekadar relasi basa-basi.
Bukan menarik diri — tetapi memilih kualitas daripada kuantitas.
2. Mengurangi Kewajiban Sosial yang Tidak Penting
Undangan arisan, reuni besar, atau acara formal yang dulu terasa wajib, kini tidak lagi dianggap prioritas.
Hal ini berkaitan dengan kesadaran akan keterbatasan energi dan waktu. Menurut teori perkembangan psikososial dari Erik Erikson, tahap akhir kehidupan berfokus pada refleksi makna hidup (integritas vs keputusasaan), bukan pada pencarian validasi sosial.
Mereka hadir jika benar-benar ingin — bukan karena tekanan sosial.
3. Berhenti Mencari Pengakuan Sosial
Pada usia produktif, pencapaian sering dikaitkan dengan status dan pengakuan. Namun setelah 60 tahun, banyak orang berhenti mengejar validasi eksternal.
Mereka tidak lagi merasa perlu membuktikan diri melalui jabatan, kemewahan, atau popularitas sosial.
Secara psikologis, ini menunjukkan kestabilan identitas dan penerimaan diri yang lebih matang.
4. Mengurangi Konflik dan Drama Sosial
Orang yang lebih tua cenderung menghindari perdebatan panjang atau konflik yang tidak produktif.
Ini bukan karena mereka pasif — melainkan karena mereka memahami bahwa kedamaian batin lebih berharga daripada “menang” dalam argumen.
Penelitian menunjukkan bahwa regulasi emosi justru meningkat seiring bertambahnya usia.
5. Tidak Lagi Terlalu Aktif di Media Sosial
Banyak orang berusia di atas 60 tahun memilih untuk tidak terlalu aktif membagikan kehidupan pribadi secara daring.
Mereka mungkin tetap menggunakan teknologi, tetapi lebih selektif.
Alih-alih mencari perhatian atau respons cepat, mereka lebih menikmati interaksi langsung yang intim dan bermakna.
6. Mengurangi Aktivitas Sosial yang Menguras Fisik
Acara malam hari, perjalanan jauh, atau kegiatan sosial yang padat energi sering dikurangi.
Secara biologis dan psikologis, tubuh dan pikiran membutuhkan ritme yang berbeda. Menghormati batas fisik bukan berarti menarik diri, tetapi bentuk adaptasi sehat terhadap perubahan usia.
7. Berhenti Terlalu Mengkhawatirkan Penilaian Orang Lain
Salah satu kebebasan terbesar setelah usia 60 adalah berkurangnya ketergantungan pada opini publik.
Mereka cenderung berkata,
“Orang mau bilang apa, terserah.”
Menurut penelitian tentang kebahagiaan lansia, tingkat kecemasan sosial justru menurun di usia lanjut karena meningkatnya penerimaan diri.
8. Lebih Memilih Waktu Sendiri (Solitude) yang Berkualitas
Kesendirian sering disalahartikan sebagai kesepian. Padahal keduanya berbeda.
Kesepian adalah perasaan tidak terhubung.
Solitude adalah pilihan sadar untuk menikmati waktu sendiri.
Banyak individu di atas 60 tahun menemukan kedamaian dalam membaca, berkebun, beribadah, atau sekadar menikmati ketenangan rumah.
Dalam perspektif psikologi positif, kemampuan menikmati waktu sendiri merupakan tanda kesehatan emosional.
Mengapa Ini Terjadi? Penjelasan Psikologisnya
Menurut Teori Selektivitas Sosioemosional dari Laura Carstensen, ketika seseorang menyadari bahwa waktu hidup semakin terbatas, fokus mereka bergeser:
Dari eksplorasi → ke makna
Dari jaringan luas → ke hubungan intim
Dari pencapaian → ke kepuasan batin
Perubahan ini bukan bentuk penarikan diri sosial, melainkan evolusi psikologis alami.
Kesimpulan
Apa yang tampak seperti “menjauh dari sosial” pada orang berusia di atas 60 tahun sering kali sebenarnya adalah:
Penyaringan hubungan
Perlindungan energi emosional
Peningkatan regulasi emosi
Fokus pada makna hidup
Alih-alih menjadi anti-sosial, mereka justru menjadi lebih sadar secara sosial — hanya saja dengan standar yang berbeda.
Penuaan bukan tentang menyempitkan hidup, tetapi tentang menyaringnya.

Jadwal Imsakiyah Ramadhan Hari Ini, 2 Maret 2026 untuk Surabaya dan Sekitarnya
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
