Logo JawaPos
Author avatar - Image
19 Februari 2026, 14.40 WIB

Orang Canggung Secara Sosial Biasanya Memiliki 7 Pengalaman Masa Kecil Ini yang Membentuk Cara Mereka Berinteraksi Menurut Psikologi

seseorang yang canggung secara sosial./ Freepik/katemangostar - Image

seseorang yang canggung secara sosial./ Freepik/katemangostar

JawaPos.com - Tidak semua orang yang terlihat pendiam atau kaku dalam percakapan memang tidak ingin bersosialisasi.

Banyak di antaranya sebenarnya ingin terhubung, tetapi merasa tidak nyaman, gugup, atau takut dinilai.

Dalam psikologi, kecanggungan sosial bukan sekadar sifat bawaan. Ia sering kali terbentuk dari pengalaman masa kecil yang membentuk cara seseorang melihat dirinya sendiri dan orang lain.

Tokoh psikologi perkembangan seperti Erik Erikson menekankan bahwa setiap tahap perkembangan anak membawa tantangan emosional tertentu.

Jika kebutuhan psikologis pada tahap tersebut tidak terpenuhi, dampaknya bisa terbawa hingga dewasa, termasuk dalam kemampuan bersosialisasi.

Dilansir dari Expert Editor pada Selasa (17/2), terdapat tujuh pengalaman masa kecil yang menurut psikologi sering membentuk kecanggungan sosial di kemudian hari.

1. Terlalu Sering Dikritik atau Diperbaiki


Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh kritik sering belajar bahwa apa pun yang mereka lakukan “tidak cukup baik”. Kritik terus-menerus—terutama yang menyerang kepribadian, bukan perilaku—membentuk rasa takut membuat kesalahan.

Baca Juga: Orang yang Selalu Duduk Di Tempat Sama Setiap Kali Di Restoran Menunjukkan 9 Ciri Kepribadian Ini Menurut Psikologi

Akibatnya, saat dewasa mereka menjadi sangat berhati-hati dalam berbicara. Mereka cenderung memikirkan setiap kata sebelum diucapkan, takut terdengar bodoh atau salah. Kecemasan ini membuat interaksi terasa kaku dan tidak alami.

2. Kurangnya Validasi Emosional

Ketika anak sering mendengar kalimat seperti “Jangan lebay”, “Kamu terlalu sensitif”, atau “Tidak usah nangis”, mereka belajar bahwa emosi mereka tidak valid. Dalam jangka panjang, ini bisa membuat seseorang kesulitan mengenali dan mengekspresikan perasaan.

Psikolog seperti Carl Rogers menekankan pentingnya unconditional positive regard—penerimaan tanpa syarat. Tanpa itu, anak dapat tumbuh dengan perasaan tidak aman secara emosional, yang kemudian muncul sebagai kecanggungan dalam hubungan sosial.

3. Mengalami Perundungan (Bullying)


Pengalaman dirundung di sekolah sangat memengaruhi cara seseorang melihat dunia sosial. Anak yang pernah dipermalukan atau dikucilkan sering mengembangkan keyakinan bahwa lingkungan sosial adalah tempat yang berbahaya.

Menurut Albert Bandura, kita belajar dari pengalaman langsung dan pengamatan. Jika interaksi sosial berulang kali dikaitkan dengan rasa sakit atau penghinaan, otak akan mengasosiasikan pergaulan dengan ancaman.

Hasilnya? Ketegangan, overthinking, dan kecanggungan setiap kali harus berinteraksi dengan orang baru.

4. Orang Tua yang Terlalu Protektif


Sekilas, perlindungan berlebihan tampak seperti kasih sayang. Namun ketika anak tidak diberi kesempatan mencoba, gagal, atau menyelesaikan konflik sendiri, mereka tidak mengembangkan kepercayaan diri sosial.

Anak yang selalu “diselamatkan” dari situasi sulit sering tumbuh menjadi orang dewasa yang meragukan kemampuan dirinya sendiri. Situasi sosial terasa menakutkan karena dulu mereka jarang diberi ruang untuk belajar menghadapinya.

5. Lingkungan yang Minim Interaksi Sosial


Anak belajar keterampilan sosial melalui praktik. Jika masa kecil dihabiskan dalam isolasi—baik karena jarang bermain dengan teman sebaya atau lingkungan yang sangat tertutup—maka kesempatan belajar membaca ekspresi, bahasa tubuh, dan dinamika percakapan menjadi terbatas.

Keterampilan sosial bukan sekadar bakat alami, melainkan kemampuan yang diasah. Tanpa latihan yang cukup, wajar jika seseorang merasa canggung saat harus bersosialisasi.

6. Pola Asuh yang Tidak Konsisten atau Tidak Aman


Teori keterikatan (attachment theory) dari John Bowlby menjelaskan bahwa hubungan awal dengan pengasuh utama membentuk rasa aman dasar seseorang. Jika pola asuh penuh ketidakpastian—kadang hangat, kadang dingin—anak bisa mengembangkan kecemasan dalam hubungan.

Sebagai orang dewasa, mereka mungkin terlalu khawatir tentang bagaimana orang lain memandang mereka, takut ditolak, atau merasa tidak cukup berharga. Semua ini memicu kecanggungan dalam interaksi sosial.

7. Dibanding-bandingkan dengan Orang Lain


Perbandingan yang terus-menerus—“Lihat kakakmu lebih pintar”, “Temanmu lebih percaya diri”—dapat merusak konsep diri anak. Mereka belajar bahwa nilai diri bergantung pada performa atau standar orang lain.

Akibatnya, dalam situasi sosial, mereka sibuk membandingkan diri dengan orang lain: Apakah saya cukup menarik? Cukup pintar? Cukup lucu? Pikiran seperti ini mengganggu spontanitas dan membuat percakapan terasa tegang.

Mengapa Ini Penting untuk Dipahami?


Memahami akar kecanggungan sosial bukan untuk menyalahkan orang tua atau masa lalu, tetapi untuk meningkatkan kesadaran diri. Banyak pola interaksi yang kita anggap sebagai “kepribadian” sebenarnya adalah respons adaptif terhadap pengalaman masa kecil.

Kabar baiknya, otak bersifat plastis. Dengan refleksi, terapi, dan latihan sosial yang konsisten, pola lama bisa diubah. Kesadaran adalah langkah pertama menuju perubahan.

Jika Anda merasa canggung secara sosial, mungkin itu bukan karena Anda “aneh” atau “tidak berbakat bersosialisasi”. Bisa jadi itu adalah cerita lama yang masih Anda bawa—dan cerita itu masih bisa ditulis ulang
Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore