Logo JawaPos
Author avatar - Image
07 Februari 2026, 17.29 WIB

Orang yang Mengatakan “Saya Lebih Suka Sendirian” padahal Merasa Hampa: 8 Perilaku Ini Biasanya Muncul Tanpa Disadari Menurut Psikologi

seseorang yang lebih suka sendirian (Freepik/EyeEm) - Image

seseorang yang lebih suka sendirian (Freepik/EyeEm)


JawaPos.com - Banyak orang mengatakan, “Saya lebih suka sendirian.” Kalimat ini sering terdengar sebagai bentuk kemandirian, kekuatan mental, atau bahkan kedewasaan emosional. Namun dalam banyak kasus, di balik pilihan untuk menyendiri tersebut, tersembunyi perasaan hampa, kosong, dan kesepian emosional yang tidak selalu disadari oleh orang itu sendiri.

Dalam psikologi, kondisi ini tidak selalu berarti depresi atau gangguan mental. Lebih sering, ini adalah mekanisme bertahan hidup (coping mechanism) — cara jiwa melindungi diri dari luka, kekecewaan, trauma relasi, atau kelelahan emosional.

Orang yang merasa hampa tetapi memilih kesendirian biasanya tidak menyadari bahwa pola perilaku tertentu mulai terbentuk secara otomatis. 
 
Dilansir dari Expert Editor, terdapat 8 perilaku yang sering muncul tanpa disadari, menurut perspektif psikologi.

1. Menghindari Kedekatan Emosional

Mereka mungkin terlihat ramah, sopan, dan bisa berinteraksi secara normal. Namun ketika hubungan mulai masuk ke wilayah emosional yang lebih dalam, mereka akan menarik diri.

Contohnya:

Tidak nyaman membicarakan perasaan pribadi

Mengganti topik saat obrolan mulai serius

Menjaga jarak emosional meskipun dekat secara fisik

Secara psikologis, ini sering disebut sebagai avoidant attachment style — pola keterikatan yang terbentuk karena pengalaman masa lalu, seperti penolakan, kehilangan, atau hubungan yang menyakitkan.

2. Merasionalisasi Kesepian sebagai “Pilihan Hidup”


Alih-alih mengakui bahwa mereka kesepian, mereka lebih memilih narasi:

“Aku emang tipe sendiri.”

“Aku nggak butuh siapa-siapa.”

“Sendiri itu lebih damai.”

Padahal secara emosional, yang terjadi adalah represi kebutuhan afeksi. Perasaan butuh koneksi ditekan karena dianggap sebagai kelemahan.

3. Terlihat Mandiri, Tapi Sebenarnya Lelah Secara Mental


Mereka tampak kuat, mandiri, dan tidak bergantung pada siapa pun. Namun di dalamnya ada kelelahan psikologis kronis.

Ciri-cirinya:

Jarang minta bantuan

Merasa harus selalu kuat

Sulit percaya orang lain

Lebih memilih memikul beban sendiri

Ini dikenal sebagai hyper-independence, kondisi di mana seseorang terlalu mandiri karena trauma ketergantungan di masa lalu.

4. Menjaga Rutinitas yang Kaku


Orang yang merasa hampa sering membangun rutinitas kaku sebagai penyangga emosional.

Rutinitas ini berfungsi sebagai:

Pengalih rasa sepi

Struktur pengganti hubungan

Kontrol atas hidup

Jika rutinitas terganggu, mereka bisa merasa gelisah, kosong, dan tidak stabil secara emosional.

5. Merasa “Tidak Terhubung” Meski Berada di Tengah Orang Banyak


Mereka bisa berada di keramaian, komunitas, bahkan keluarga — tetapi tetap merasa sendiri.

Ini disebut emotional loneliness (kesepian emosional), berbeda dengan kesepian sosial.

Tandanya:

Merasa tidak dipahami

Merasa tidak nyambung dengan orang sekitar

Merasa seperti "orang luar" dalam kelompok

6. Menyembunyikan Luka dengan Humor atau Logika


Alih-alih mengekspresikan rasa sakit, mereka memilih:

Humor

Sarkasme

Logika berlebihan

Analisis rasional

Ini adalah bentuk defense mechanism (mekanisme pertahanan diri) agar tidak perlu menyentuh emosi yang sebenarnya.

7. Menghindari Ketergantungan Emosional


Mereka takut terikat, bukan karena tidak ingin mencintai, tapi karena takut kehilangan, kecewa, atau terluka lagi.

Pola pikir yang muncul:

“Kalau nggak terlalu dekat, nggak akan sakit.”

“Kalau nggak berharap, nggak akan kecewa.”

Secara psikologis ini adalah bentuk self-protection attachment strategy.

8. Merasa Kosong Tapi Tidak Tahu Apa yang Hilang


Ini yang paling dalam dan paling menyakitkan.

Mereka merasa:

Hidup berjalan, tapi tidak terasa hidup

Tertawa, tapi tidak bahagia

Tenang, tapi kosong

Perasaan hampa ini sering berasal dari:

Kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi

Koneksi batin yang tidak terbentuk

Trauma emosional yang belum diproses

Hubungan yang tidak aman di masa lalu

Penutup: Sendiri Tidak Selalu Salah, Tapi Menghindar Bisa Menyakitkan


Menyukai kesendirian bukanlah masalah. Banyak orang memang membutuhkan ruang pribadi untuk tumbuh.

Namun, jika kesendirian digunakan sebagai pelindung dari rasa sakit, maka ia bukan lagi pilihan sehat — melainkan mekanisme bertahan hidup.

Psikologi melihat bahwa manusia secara alami adalah makhluk relasional. Kita butuh koneksi, validasi, kelekatan emosional, dan rasa dimengerti.

Belajar membuka diri tidak berarti menjadi lemah. Belajar membutuhkan orang lain bukan berarti bergantung. Belajar terhubung bukan berarti kehilangan kemandirian.

Kadang, kalimat “Aku lebih suka sendirian” bukan tentang kenyamanan — melainkan tentang luka yang belum sembuh, hati yang belum aman, dan kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.
 
***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore