Logo JawaPos
Author avatar - Image
01 Januari 2026, 00.55 WIB

Orang yang Merasa Hampa di Dalam dan Tak Mampu Menentukan Penyebabnya Sering Mengabaikan 10 Kebutuhan Ini Menurut Psikologi

seseorang yang merasa hampa di dalam dirinya./Freepik/EyeEm - Image

seseorang yang merasa hampa di dalam dirinya./Freepik/EyeEm

JawaPos.com - Ada perasaan kosong yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Hidup terasa berjalan, rutinitas tetap dilakukan, bahkan senyum masih bisa diberikan kepada orang lain.

Namun, di balik semua itu, ada kehampaan yang menetap—seperti ruang sunyi di dalam diri yang tak tahu harus diisi dengan apa.

Banyak orang mengira perasaan ini disebabkan oleh kegagalan besar, trauma berat, atau kehilangan yang jelas.

Padahal menurut psikologi, kehampaan batin sering kali muncul bukan karena satu peristiwa besar, melainkan karena kebutuhan-kebutuhan emosional dasar yang diabaikan dalam waktu lama.

Ironisnya, kebutuhan ini tampak sepele, tidak mendesak, dan sering dikalahkan oleh tuntutan produktivitas atau ekspektasi sosial.

Dilansir dari Geediting pada Selasa (30/12), terdapat sepuluh kebutuhan psikologis yang kerap diabaikan oleh orang-orang yang merasa hampa, meski mereka sendiri sulit menunjuk penyebab pastinya.

1. Kebutuhan untuk Memahami dan Dikenali Secara Emosional

Manusia tidak hanya ingin didengar, tetapi juga ingin dipahami. Banyak orang dikelilingi teman, keluarga, atau rekan kerja, namun tetap merasa sendirian karena tak ada yang benar-benar mengenali isi pikirannya.

Ketika emosi hanya disambut dengan nasihat atau penilaian, bukan empati, perlahan muncul perasaan kosong. Psikologi menegaskan bahwa validasi emosional adalah fondasi kesehatan mental—tanpanya, seseorang merasa “ada”, tetapi tidak “terlihat”.

2. Kebutuhan Akan Makna, Bukan Sekadar Kesibukan

Kesibukan sering disalahartikan sebagai tujuan hidup. Orang yang merasa hampa biasanya sangat sibuk: bekerja, mengejar target, memenuhi tanggung jawab. Namun aktivitas tanpa makna hanya menguras energi tanpa mengisi batin.

Viktor Frankl, tokoh psikologi eksistensial, menekankan bahwa manusia mampu bertahan dalam penderitaan asalkan hidupnya terasa bermakna. Tanpa makna, bahkan kenyamanan pun terasa kosong.

3. Kebutuhan untuk Terhubung dengan Diri Sendiri

Banyak orang tahu apa yang diharapkan orang lain dari dirinya, tetapi tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan.

Mengabaikan dialog batin—tidak pernah bertanya “apa yang aku butuhkan?”—membuat seseorang terasing dari dirinya sendiri. Kehampaan sering muncul ketika seseorang hidup sesuai peran, bukan sesuai kesadaran diri.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore