
Ilustrasi seseorang yang menyesal setelah marah dan meluapkan emosi. (Freepik)
JawaPos.com - Pernahkah Anda tanpa sadar membentak rekan kerja atau mengucapkan kata-kata kasar kepada pasangan saat sedang stres? Tenang, Anda tidak sendirian.
Reaksi spontan seperti ingin marah, diam seribu bahasa, atau kabur dari situasi sulit sebenarnya adalah mekanisme alami tubuh untuk melindungi diri.
Sayangnya, jika emosi dibiarkan mengambil alih kendali, hubungan profesional maupun personal bisa hancur berantakan.
Menguasai "seni untuk tidak meledak" bukan sekadar tanda kedewasaan, tapi keterampilan bertahan hidup yang wajib dimiliki di era yang serba cepat ini.
Dikutip dari Your Tango, berikut tiga langkah praktis untuk meredam respons stres sebelum Anda melakukan hal yang akan disesali kemudian.
Sebelum kata-kata tajam keluar dari mulut, tubuh Anda biasanya sudah mengirimkan sinyal peringatan. Perhatikan apakah dada Anda terasa sesak, bahu menegang, atau rahang mengeras? Ini adalah tanda tubuh Anda masuk ke mode fight-or-flight.
Jika sinyal ini diabaikan, stres akan menumpuk dan memengaruhi tekanan darah hingga cara Anda berpikir sepanjang hari.
Kuncinya adalah melatih fokus pikiran agar tidak terjebak dalam skenario negatif yang memperparah keadaan. Dr. Carmen Harra, Ph.D., menekankan pentingnya kesadaran ini.
"Salah satu kunci untuk melepaskan diri adalah melatih otak Anda untuk semakin sedikit memikirkan hal-hal yang membuat Anda stres. Ketika Anda mendapati diri Anda menciptakan cerita-cerita yang menyakitkan atau merugikan dalam pikiran Anda, berhentilah dan alihkan fokus," ujarnya.
Banyak dari kita terjebak dalam lingkaran setan dengan bertanya, "mengapa saya stres?" secara berlebihan.
Padahal, terlalu banyak menganalisis justru sering kali menambah beban pikiran. Terkadang, Anda tidak butuh jawaban filosofis, Anda hanya perlu merasakan sensasi fisik yang muncul.
Memendam emosi tanpa merasakannya hanya akan menguras energi. Akibatnya, Anda merasa cepat lelah dan hampa. Mengalihkan perhatian ke kesadaran tubuh atau mindfulness terbukti jauh lebih efektif untuk menurunkan tingkat kecemasan.
Psikoterapis Katherine Mazza menjelaskan bahwa kesadaran tubuh sangat membantu dalam proses ini. "Pelatihan mindfulness adalah bagian efektif dari proses penyambungan kembali dan solusi untuk mengurangi kecemasan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dengan keheningan dan kesadaran, seseorang bisa menemukan sumber kecemasan yang sebenarnya dan mengelolanya dengan lebih sehat.
Emosi yang dipendam ibarat bom waktu. Jika tidak disalurkan, ia akan meledak dalam bentuk amarah yang tidak proporsional atau kelelahan mental yang hebat. Jangan habiskan energi Anda hanya untuk "menekan" perasaan.

Jadwal Imsakiyah Ramadhan Hari Ini, 2 Maret 2026 untuk Surabaya dan Sekitarnya
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
