Logo JawaPos
Author avatar - Image
27 Desember 2025, 04.54 WIB

8 Kebiasaan Sosial yang Diam-diam Mengungkap Seseorang Tumbuh dengan Minim Perhatian di Rumah Menurut Psikologi

seseorang yang tumbuh minim perhatian./Freepik/jcomp - Image

seseorang yang tumbuh minim perhatian./Freepik/jcomp

JawaPos.com - Tidak semua luka masa kecil muncul dalam bentuk trauma besar atau cerita pilu yang dramatis. Sebagian justru bersembunyi rapi di balik kebiasaan sosial yang tampak “biasa saja”.

Seseorang bisa tumbuh dewasa, berfungsi dengan baik di masyarakat, bahkan terlihat mandiri dan kuat—namun di balik itu menyimpan jejak masa kecil yang minim perhatian emosional di rumah.

Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa kurangnya perhatian, validasi, dan kehangatan emosional di masa kanak-kanak sering tidak disadari sebagai masalah.

Anak tetap diberi makan, disekolahkan, dan dipenuhi kebutuhan fisiknya, tetapi miskin kehadiran emosional. Dampaknya baru terasa saat dewasa, terutama dalam cara seseorang bersikap, berinteraksi, dan memposisikan diri dalam hubungan sosial.

Dilansir dari Geediting pada Kamis (25/12), terdapat delapan kebiasaan sosial yang sering kali menjadi “penanda halus” bahwa seseorang tumbuh dengan sedikit perhatian emosional di rumah—bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memahami.

1. Terlalu Mandiri hingga Sulit Meminta Bantuan

Orang-orang ini sering dipuji sebagai pribadi kuat dan mandiri. Namun di balik kemandirian ekstrem itu, sering tersembunyi keyakinan bawah sadar bahwa meminta bantuan adalah hal sia-sia.

Secara psikologis, anak yang terbiasa diabaikan akan belajar satu hal: tidak ada yang datang ketika aku butuh.

Akibatnya, saat dewasa, mereka menutup kebutuhan emosionalnya sendiri, bahkan ketika sedang kewalahan.

Dalam konteks sosial, mereka jarang berbagi masalah, bukan karena tidak percaya orang lain, tetapi karena sejak kecil mereka belajar untuk tidak berharap.

2. Sulit Mengekspresikan Perasaan Secara Verbal

Banyak dari mereka tampak “dingin” atau terlalu rasional dalam interaksi sosial. Padahal, masalahnya bukan tidak punya emosi, melainkan tidak pernah diajarkan bahasa untuk menamainya.

Psikologi menyebut ini sebagai emotional neglect. Anak tidak dibimbing untuk mengenali, mengekspresikan, dan mengelola perasaan. Akibatnya, saat dewasa, emosi tetap ada—namun terpendam, membingungkan, dan sulit disa

mpaikan kepada orang lain.

3. Terbiasa Menjadi Pendengar, Bukan Pencerita

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore