Logo JawaPos
Author avatar - Image
24 Desember 2025, 01.27 WIB

Orang yang Menelepon Alih-alih Mengirim Pesan Teks Menunjukkan 7 Keterampilan Sosial yang Semakin Langka Menurut Psikologi

seseorang yang lebih memilih menelepon langsung./Freepik/EyeEm - Image

seseorang yang lebih memilih menelepon langsung./Freepik/EyeEm

JawaPos.com - Di era notifikasi tanpa henti, pesan teks telah menjadi bahasa utama komunikasi manusia modern.

Kita bisa berbincang tanpa suara, tanpa tatapan, bahkan tanpa emosi yang benar-benar terlihat.

Namun, di tengah dominasi chat dan voice note singkat, masih ada sebagian orang yang memilih mengangkat telepon dan menelepon langsung.

Pilihan sederhana ini sering dianggap merepotkan, terlalu “formal”, atau bahkan mengganggu.

Padahal menurut psikologi sosial, kebiasaan menelepon justru mencerminkan keterampilan sosial tertentu yang kini semakin langka. Bukan soal teknologi, melainkan soal kualitas hubungan dan keberanian emosional.

Dilansir dari Geediting pada Senin (22/12), terdapat tujuh keterampilan sosial yang biasanya dimiliki oleh orang yang lebih memilih menelepon daripada sekadar mengirim pesan teks.

1. Keberanian Menghadapi Respons Secara Langsung

Mengirim pesan memberi jarak emosional. Kita bisa menghapus, mengedit, atau bahkan mengabaikan balasan. Menelepon tidak memberi kemewahan itu.

Orang yang menelepon terbiasa menghadapi respons secara real time—entah itu antusias, datar, canggung, atau bahkan penolakan. Dalam psikologi, ini berkaitan dengan toleransi terhadap ketidakpastian sosial, sebuah kemampuan yang menurun di era komunikasi tertunda.

Mereka tidak bersembunyi di balik layar. Mereka siap mendengar apa pun jawabannya.

2. Kemampuan Membaca Emosi dari Nada Suara

Pesan teks hanya menyampaikan kata-kata, tetapi suara membawa lapisan emosi yang jauh lebih kaya: intonasi, jeda, tarikan napas, hingga perubahan tempo bicara.

Orang yang terbiasa menelepon biasanya memiliki kepekaan emosional yang lebih tajam. Mereka bisa menangkap apakah lawan bicara sedang lelah, tertekan, ragu, atau menyembunyikan sesuatu—tanpa harus diberi emoji.

Dalam psikologi komunikasi, ini disebut paralinguistic awareness, dan keterampilan ini semakin jarang terasah karena minimnya percakapan suara.

3. Kesiapan untuk Hadir Sepenuhnya dalam Percakapan

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore