Logo JawaPos
Author avatar - Image
27 Desember 2025, 21.26 WIB

Krisis Sampah di Tangsel, Walkot Benyamin Davnie Sebut PSEL Sebagai Solusi Jangka Panjang

DLH Tangsel masih terus mengupayakan perbaikan dan penyelesaian masalah di TPA Cipeucang yang terus disorot oleh warga. (tangerangselatankota.go.id) - Image

DLH Tangsel masih terus mengupayakan perbaikan dan penyelesaian masalah di TPA Cipeucang yang terus disorot oleh warga. (tangerangselatankota.go.id)

JawaPos.com - Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Benyamin Davnie menyadari persoalan sampah di wilayahnya sudah menjadi krisis. Namun, dia tegas menyebutkan bahwa saat ini Pemkot Tangsel tengah mengupayakan solusi jangka panjang dalam tata kelola sampah. Yakni dengan meninggalkan cara-cara lama ke pengolahan sampah modern, Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).

Benyamin mengungkapkan bahwa kendala pengangkutan sampah yang saat ini terjadi di sejumlah wilayah merupakan dampak langkah korektif pemerintah. Dia menyatakan, Pemkot Tangsel tengah melakukan transisi besar-besaran dari pola pembuangan sampah konvensional menuju sistem pengolahan sampah modern berbasis teknologi.

Sebagai kepala daerah, Benyamin sadar betul ada ketidaknyamanan yang dialami warga Tangsel akibat tumpukan sampah di beberapa titik. Namun demikian, dia menyatakan, saat ini Pemkot Tangsel tidak ingin memindahkan masalah dari satu tempat ke tempat lain. Karena itu, pihaknya berusaha memutus rantai persoalan sampah tersebut dari akarnya.

”Saya merasakan betul kegelisahan warga. Bau yang tidak sedap dan pemandangan tumpukan sampah itu adalah beban moral bagi saya. Namun, kita harus berani mengambil langkah jujur bahwa TPA Cipeucang sudah tidak mampu lagi menampung beban dengan cara lama. Memaksakan pembuangan di sana justru akan menciptakan bencana lingkungan yang lebih besar bagi anak cucu kita,” kata dia dalam keterangan resmi yang disampaikan pada Sabtu (27/12).

Menurut Benyamin, proyek PSEL adalah solusi jangka panjang. Dia menyampaikan bahwa proyek tersebut sudah melalui tahap lelang yang ketat dan kini berada pada fase krusial sebelum konstruksi dimulai. Dia menegaskan, proyek tersebut merupakan bagian dari program strategis nasional untuk mengatasi persoalan darurat sampah perkotaan.

PSEL nantinya akan memiliki kapasitas olah yang sangat masif, mencapai 1.000 ton hingga 1.100 ton sampah per hari. Angka itu setara dengan seluruh timbulan sampah yang dihasilkan warga Tangsel setiap harinya,” jelas dia.

Benyamin menambahkan bahwa PSEL itu dilengkapi teknologi thermal dengan standar emisi sangat ketat. Dia memastikan nantinya seluruh sampah akan habis dibakar dan dikonversi menjadi energi listrik, bukan lagi ditumpuk sampai menjadi gunungan sampah. Sistem itu diyakini mampu mereduksi volume sampah sampai 90 persen, sehingga residu yang dihasilkan sangat minimal.
”Ini adalah jawaban atas keterbatasan lahan kita yang semakin padat demi mencapai target zero landfill,” imbuhnya.

Sambil menunggu proyek PSEL berproses hingga beroperasi secara permanen, Pemkot Tangsel menjalankan strategi berlapis untuk mengurai kemacetan sampah di lingkungan warga. Diantaranya dengan melakukan pengangkutan prioritas menggunakan armada tambahan dari titik-titik pemukiman padat penduduk dan fasilitas umum. Tujuannya agar estetika kota tetap terjaga.

Kemudian, Pemkot Tangsel melanjutkan koordinasi pembuangan sampah sementara ke daerah mitra, seperti TPA Cilowong di Serang. Tujuannya untuk mengurangi beban berat di TPA Cipeucang. Sementara di level akar rumput, pemerintah mengaktivasi kembali lebih dari 36 Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di setiap kelurahan.

”Aspek kesehatan warga tetap nomor satu. Saya memerintahkan penyemprotan desinfektan dan cairan pengurai bau secara rutin di titik-titik tumpukan sampah yang belum terangkut untuk meminimalisir dampak sanitasi,” jelasnya.

Dalam keterangan yang sama, Benyamin mengajak warga dan masyarakat untuk terlibat dalam perubahan besar yang tengah dilakukan oleh Pemkot Tangsel. Dia yakin dan percaya, sentuhan tangan warga dalam memilah sampah dari sumbernya adalah bagian dari solusi yang paling efektif. Dia menyatakan, pemerintah tidak dapat berjalan sendiri dan membutuhkan peran warga.

”Saya memohon kepada warga, mari kita mulai memilah sampah organik dan anorganik dari dapur kita masing-masing. Transisi ini memang berat, tapi ini adalah jalan menuju Tangerang Selatan yang lebih hijau dan bersih. Ini adalah warisan kita untuk masa depan anak cucu kelak,” tandasnya.

Benyamin pun menegaskan bahwa langkah pembatasan di TPA Cipeucang saat ini adalah bagian dari tanggung jawab lingkungan untuk menghindari longsoran sampah ke aliran sungai. Dia menyampaikan, transisi dari cara-cara pengelolaan sampah lama menuju PSEL adalah jalan keluar yang adil dan berkelanjutan bagi seluruh warga Tangsel.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore