
Milisi bersenjata turun ke jalanan Venezuela usai AS tangkap Nicolas Maduro. (Guardian)
JawaPos.com - Pemerintah Venezuela mengerahkan milisi bersenjata untuk menguasai jalan-jalan ibu kota Caracas, tak lama setelah serangan Amerika Serikat (AS) yang mengguncang pusat kekuasaan negara tersebut.
Langkah ini dinilai sebagai upaya rezim mempertahankan kendali sekaligus meredam potensi perlawanan publik pasca penangkapan Presiden Nicolas Maduro.
Kelompok paramiliter yang dikenal sebagai colectivos terlihat berpatroli dengan sepeda motor dan senapan serbu sejak awal pekan kemarin. Mereka mendirikan pos pemeriksaan, menghentikan kendaraan, hingga memaksa warga membuka ponsel untuk memeriksa kontak, pesan, dan aktivitas media sosial.
Aksi tersebut menjadi sinyal keras bahwa kekuasaan masih berada di tangan rezim, meski Maduro kini ditahan dan menghadapi proses hukum di Amerika Serikat.
“Semua orang takut. Ada warga sipil bersenjata di mana-mana. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, mereka bisa menyerang siapa saja,” ujar Mirelvis Escalona (40), warga Catia, Caracas bagian barat.
Ia mengatakan siapa pun yang dicurigai mendukung serangan AS berisiko langsung ditangkap.
Meski aktivitas ekonomi perlahan kembali berjalan, toko dan toko roti mulai buka, warga kembali bekerja, suasana kota tetap diliputi kecemasan. Ketidakpastian politik menciptakan ketegangan yang terasa di hampir setiap sudut Caracas.
Presiden interim Delcy Rodriguez berusaha menampilkan citra stabil sejak dilantik pada Senin. Namun, kegugupan pemerintah sulit disembunyikan.
Dalam pidato televisi, Rodriguez menegaskan bahwa tidak ada agen eksternal yang mengatur Venezuela, menanggapi klaim mantan Presiden AS Donald Trump bahwa Washington kini mengendalikan negara Amerika Selatan tersebut.
Pernyataan itu menandai perubahan sikap Rodriguez, yang sehari sebelumnya sempat melontarkan nada lebih lunak dengan 'mengundang pemerintah AS bekerja sama dalam agenda kooperatif.
Situasi makin tegang setelah terdengar tembakan pada Senin (5/1) malam, ketika aparat menembaki drone tak dikenal yang diduga disangka sebagai bagian dari operasi AS lanjutan.
“Tidak ada konfrontasi, negara sepenuhnya dalam keadaan tenang,” klaim Wakil Menteri Informasi Simon Arrechider. Namun banyak warga menilai ketenangan itu rapuh.
Sementara itu, mengutip Guardian, sedikitnya 14 jurnalis dan pekerja media, 13 di antaranya dari media internasional, sempat ditahan pada Senin. Hampir semuanya dibebaskan beberapa jam kemudian.
Pemerintah juga memberlakukan dekret darurat yang melarang segala bentuk perayaan atas jatuhnya Maduro serta memerintahkan aparat memburu siapa pun yang dianggap mendukung serangan AS.
Rekaman di media sosial memperlihatkan colectivos, sebagian mengenakan topeng, memblokir jalan tol, menyusuri kawasan oposisi, dan menginterogasi warga. Banyak penduduk memperingatkan kerabat melalui WhatsApp agar meninggalkan ponsel di rumah atau menghapus konten politik.

Jadwal Imsakiyah Ramadhan Hari Ini, 2 Maret 2026 untuk Surabaya dan Sekitarnya
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
