Logo JawaPos
Author avatar - Image
23 Februari 2026, 12.58 WIB

BRIN Sebut Lubang Raksasa di Aceh Tengah Bukan Sinkhole, tapi Longsoran Tufa Gunung Berapi

Lubang raksasa di Aceh Tengah yang terus meluas. BRIN menyebut lubang raksasa tersebut bukan sinkhole, melainkan longsoran Tufa. (Dok. Kementerian PU)

JawaPos.com – Fenomena lubang raksasa di Aceh Tengah terus jadi sorotan publik, karena dari waktu ke waktu ukurannya kian membesar.

Tak sedikit yang menyebut lubang raksasa tersebut sebagai sinkhole. Namun peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan lubang raksasa yang sudah menelan sawah, jalan raya, sampai menara listrik itu bukan sinkhole.

Analisis tersebut disampaikan Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Adrin Tohari. Dia mengakui bahwa lubang raksasa itu terus meluas dan memicu kekhawatiran masyarakat setempat.

Meski demikian, dia menegaskan bahwa lubang raksasa tersebut bukan sinkhole sebagaimana yang kerap dipersepsikan publik.

Adrin menjelaskan, kawasan munculnya lubang raksasa di Aceh Tengah itu tidak tersusun dari batu gamping yang lazim jadi penyebab sinkhole.

Lokasi terjadinya lubang raksasa itu berupa endapan piroklasik aliran yang berupa material tufa, yakni batuan dan material halus hasil aktivitas gunung api Geurendong yang sudah tidak aktif saat ini.

Dia mengatakan material tufa tersebut tergolong muda secara geologi, serta belum mengalami pemadatan sempurna. Sehingga sifatnya rapuh dan mudah runtuh.

‘Yang terjadi di Aceh itu sebenarnya fenomena longsoran. Bukan sinkhole,’ tegasnya (21/2). Kondisi di sana lapisan tufa tidak padat dan kekuatannya cenderung rendah. Sehingga mudah sekali tergerus dan menjadi reruntuhan.

BRIN melakukan analisis berdasarkan citra satelit Google Earth sejak 2010 lalu. Hasilnya kawasan tersebut menunjukkan adanya lembah atau ngarai kecil.

Seiring waktu, proses erosi dan longsoran terus berlangsung. Sampai sekarang muncul lubang raksasa yang sangat luas.

Ada beberapa waktu yang memicu terjadinya longsoran di lubang raksasa tersebut. Di antaranya adalah gempa berkekuatan 6,2 SR di Aceh Tengah pada 2013 lalu. Adanya gempa tersebut memperlemah struktur lereng, sehingga memicu kondisi yang tidak stabil.

Berikutnya adalah hujan lebat juga membuat tanah menjadi cepat tergerus. Adanya aliran air irigasi dan air permukaan semakin memperparah kondisi di sekitar kawsan itu.

Untuk saat ini yang perlu dilakukan adalah upaya mitigasi. Tujuannya untuk keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitar lubang raksasa. Jangan sampai kejadian longsoran menimbulkan korban jiwa. 

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore